KENDAL — idm-news.net-
Menjadi seorang pengusaha tidak cukup hanya dengan memiliki modal. Keberanian untuk memulai, kemauan belajar, konsistensi, dan kemampuan bangkit dari kegagalan menjadi bagian penting dalam perjalanan membangun sebuah usaha.
Pesan itulah yang disampaikan Setyo Budi, atau akrab disapa Mas Budi, Owner Ayam dan Bebek Kampung Mas Budi, saat berbagi pengalaman dan inspirasi entrepreneurship di hadapan ribuan santri Pondok Pesantren Darul Amanah.
Di hadapan para santri, Mas Budi membuka kisahnya bukan dengan cerita tentang keberhasilan, melainkan tentang proses panjang yang harus dilalui untuk membangun sebuah usaha.
Ia menceritakan pengalaman menjalani dunia usaha dengan segala dinamika dan tantangannya. Baginya, keberhasilan yang terlihat saat ini merupakan hasil dari perjalanan yang tidak selalu mudah.
“Jangan hanya melihat orang ketika sudah berhasil. Lihat proses yang mereka lalui sebelum sampai pada titik tersebut,” pesan Mas Budi.
Menurutnya, dunia usaha mengajarkan banyak hal yang tidak selalu diperoleh dari teori. Seorang pengusaha akan berhadapan langsung dengan konsumen, persaingan, perubahan kondisi pasar, persoalan operasional, hingga tuntutan untuk terus berinovasi.
Mas Budi mengajak para santri untuk tidak takut mencoba sesuatu yang baru. Kegagalan, menurutnya, bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses belajar.
“Kalau gagal, evaluasi. Kalau salah, perbaiki. Jangan kemudian berhenti. Karena dari pengalaman itulah kita belajar,” ujarnya.
Di hadapan ribuan santri, Mas Budi juga menekankan pentingnya keberanian untuk memulai.
ia mengingatkan bahwa sebuah usaha besar dapat berawal dari langkah kecil. Karena itu, para santri tidak perlu menunggu memiliki modal besar atau fasilitas lengkap untuk belajar berwirausaha.
Hal yang lebih penting adalah memiliki kemauan, melihat peluang, dan berani mengambil langkah pertama.
“Tidak harus langsung besar. Mulai dari yang kecil, lakukan dengan sungguh-sungguh, kemudian terus belajar dan dikembangkan,” katanya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi para santri yang suatu saat akan kembali ke tengah masyarakat. Selain memiliki bekal ilmu agama dan pendidikan formal, mereka juga perlu memiliki kemandirian dan kemampuan membaca peluang.
Menurut Mas Budi, pesantren merupakan lingkungan yang strategis untuk menanamkan karakter tersebut sejak dini.
Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan amanah, kata dia, merupakan prinsip yang sangat penting dalam dunia usaha.
Mas Budi juga mengingatkan bahwa bisnis tidak semata-mata berbicara tentang keuntungan.
Kepercayaan pelanggan menjadi aset yang harus dibangun dalam waktu panjang. Karena itu, kualitas produk dan pelayanan harus dijaga secara konsisten.
“Kalau ingin usaha bertahan lama, jangan hanya mengejar keuntungan. Bangun kepercayaan. Sekali orang percaya, insyaallah mereka akan kembali,” tuturnya.
Dalam konteks bisnis kuliner yang digelutinya, menjaga kualitas produk menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan usaha.
Pengalaman tersebut kemudian ia bagikan kepada para santri sebagai contoh bahwa menjalankan usaha membutuhkan ketekunan dan perhatian terhadap hal-hal kecil.
Mas Budi juga mendorong generasi muda untuk tidak gagap menghadapi perubahan zaman.
Perkembangan teknologi dan media sosial, menurutnya, telah membuka peluang yang jauh lebih luas bagi pelaku usaha. Produk lokal sekalipun dapat dikenal masyarakat luas apabila dikemas dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
Karena itu, santri juga didorong untuk menguasai teknologi digital, kreativitas konten, komunikasi, dan pemasaran sebagai bagian dari keterampilan masa kini.
“Jangan hanya menjadi penonton perkembangan teknologi. Kita harus bisa memanfaatkannya untuk sesuatu yang produktif,” pesannya.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi sesi berbagi pengalaman bisnis. Lebih dari itu, Mas Budi berusaha menanamkan keberanian kepada para santri untuk memiliki mimpi dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Ia mengajak para santri untuk tidak minder dengan kondisi hari ini. Menurutnya, masa depan tidak ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, tetapi oleh kemauan untuk terus belajar dan berusaha.
“Bermimpilah setinggi-tingginya. Tetapi setelah bermimpi, harus ada usaha. Karena mimpi tanpa tindakan hanya akan menjadi angan-angan,” ungkapnya.
Kisah perjalanan Mas Budi memberikan perspektif bahwa entrepreneurship bukan semata-mata tentang bagaimana mendapatkan keuntungan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membangun karakter, menghadapi masalah, mengambil keputusan, dan menciptakan manfaat bagi orang lain.
Bagi ribuan santri Darul Amanah, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa kesuksesan tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang membutuhkan keberanian, kerja keras, kesabaran, inovasi, dan konsistensi.
Dari dunia usaha yang digelutinya, Mas Budi pun menitipkan satu pesan penting kepada generasi muda: berani bermimpi, berani memulai, dan jangan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.


