Pembangunan PSEL Bantargebang Target 2027 Pengolahan Sampah Beroperasi

 


Bekasi, idm-news.net-

Pemerintah Kota Bekasi resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bantargebang, Ciketing Udik. Fasilitas tersebut ditargetkan dapat beroperasi dalam waktu 18 bulan dan memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan pembangunan PSEL menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah di wilayah Kota Bekasi. Meski demikian, keberadaan fasilitas tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan seluruh persoalan sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari.

“PSEL ini menjadi salah satu solusi, tetapi kita masih memiliki persoalan sekitar 300 ton sampah yang harus kita selesaikan bersama,” ujar Tri Adhianto. 

Menurut Tri, penanganan sampah tidak dapat hanya mengandalkan teknologi pengolahan berskala besar. Peran masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya juga menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah. 

Ia mengajak masyarakat mulai melakukan pemilahan sampah dari rumah, terutama dengan memisahkan sampah organik dan anorganik.

“Ini bukan berarti persoalan sampah selesai. Harus dibantu dengan proses pemilahan dari rumah. Kalau kita mulai memilah dari kediaman masing-masing, tentu akan mengurangi persoalan sampah setiap harinya,” katanya.

Gerakan memilah sampah, lanjut Tri, juga perlu diterapkan di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, perkantoran, pusat perbelanjaan, kawasan perdagangan hingga para pedagang.

Ini harus menjadi gerakan bersama. Mulai dari rumah, sekolah, pedagang, mal, kantor dan seluruh lingkungan masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat berharap pembangunan fasilitas pengolahan sampah di kawasan Bekasi Raya, Bogor Raya dan Bandung Raya dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah. 

Menurutnya, persoalan sampah tidak hanya dapat diselesaikan melalui pembangunan fasilitas dan penggunaan teknologi. Perubahan perilaku masyarakat, termasuk kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan dan memilah sampah sejak dari sumbernya, juga diperlukan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut pembangunan PSEL skala besar menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menangani persoalan sampah di sejumlah kota yang mengalami kondisi darurat sampah.

Pemerintah menargetkan percepatan pembangunan PSEL di 40 kota besar dapat dilakukan pada 2027 hingga 2028. Kota-kota dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari menjadi salah satu sasaran pengembangan fasilitas Waste to Energy.

“Yang darurat dan besar-besar, di atas 1.000 ton, kita akan buat PSEL atau Waste to Energy,” ujar Zulkifli Hasan.

Zulhas juga menargetkan persoalan sampah secara nasional dapat tertangani hingga 70–80 persen pada 2029. Sementara sebagian persoalan lainnya, terutama yang berada di tingkat rumah tangga, membutuhkan edukasi serta perubahan kebiasaan masyarakat.

Karena itu, pemilahan sampah dari sumber dinilai menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan sampah nasional. Sampah organik dan anorganik diharapkan dapat dipisahkan sejak dari rumah agar tidak seluruhnya tercampur dan menjadi beban bagi tempat pengolahan maupun tempat pembuangan akhir.

Pembangunan PSEL Bantargebang diharapkan mampu memperkuat sistem pengelolaan sampah di Kota Bekasi sekaligus mengurangi volume sampah yang harus ditangani. Namun, efektivitas fasilitas tersebut tetap membutuhkan dukungan masyarakat melalui pengurangan sampah, pemilahan dari sumber, serta kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Ground breaking pembangunan PSEL tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta jajaran Pemerintah Kota Bekasi, termasuk Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi.

(ytm)

Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan

Iklan

 


نموذج الاتصال