Grobogan — Agung Setiyo Utomo resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Kepala Desa Jumo, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Rabu (14/10/2026). Berbekal pendidikan komputer dan pengalaman di bidang konten kreatif NU Online, ia membawa gagasan pengembangan pelayanan desa berbasis teknologi untuk mempermudah akses layanan dan informasi bagi masyarakat.
Agung datang ke tempat pendaftaran didampingi keluarga, saudara, dan sejumlah simpatisan. Berkas pendaftarannya telah diterima panitia pemilihan kepala desa.
Ia mengatakan, keputusannya maju sebagai bakal calon kepala desa didorong oleh rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap desa tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan. Melalui pencalonan tersebut, ia ingin mengabdikan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya untuk kemajuan masyarakat.
“Saya lahir dan tumbuh di Desa Jumo. Karena itu, saya merasa punya tanggung jawab untuk ikut membangun desa ini. Saya ingin ilmu dan pengalaman yang saya miliki bisa bermanfaat bagi warga,” kata Agung.
Dalam pencalonannya, lulusan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang tersebut mengusung visi mewujudkan Desa Jumo yang MAJU, yakni Mandiri, Agamis, Jujur, dan Unggul.
Visi tersebut dijabarkan melalui sejumlah gagasan, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan pemerintahan desa, pembangunan infrastruktur berdasarkan kebutuhan masyarakat, hingga penguatan ekonomi warga melalui sektor pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pengembangan badan usaha milik desa (BUMDes).
Selain itu, Agung menaruh perhatian pada pemberdayaan pemuda dan perempuan, peningkatan kualitas pendidikan, serta pemeliharaan kerukunan masyarakat
Menurutnya, pembangunan desa perlu dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, program pembangunan diharapkan dapat menjawab kebutuhan warga sekaligus memberikan manfaat secara merata.
Siapkan Aplikasi Jumo Maju
Salah satu gagasan yang disiapkan Agung adalah pengembangan Aplikasi Jumo Maju, sebuah platform pelayanan dan informasi desa berbasis teknologi digital.
Aplikasi yang saat ini masih dalam tahap prototipe tersebut dirancang untuk menghadirkan sejumlah fitur yang dapat membantu masyarakat mengakses pelayanan administrasi dan berbagai informasi desa melalui telepon seluler.
“Gagasan ini berangkat dari keinginan agar warga lebih mudah mendapatkan pelayanan dan informasi. Aplikasinya masih dalam tahap pengembangan, sehingga perlu terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Agung.
Ia menjelaskan, prototipe Aplikasi Jumo Maju dirancang memiliki empat kelompok layanan utama. Pertama, layanan administrasi surat-menyurat dan pengaduan masyarakat. Kedua, penyediaan informasi bantuan sosial dan anggaran desa.
Ketiga, informasi pertanian serta sarana promosi produk UMKM warga. Keempat, penyampaian berita desa, pengumuman, dan informasi kegiatan kepemudaan.
Melalui pengembangan aplikasi tersebut, Agung berharap pelayanan pemerintahan desa ke depan dapat berjalan lebih mudah, terbuka, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, ia menyadari bahwa penerapan teknologi harus mempertimbangkan kesiapan perangkat desa dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan layanan digital.
Karena itu, menurutnya, digitalisasi tidak boleh menghilangkan pelayanan secara langsung, terutama bagi warga yang belum terbiasa menggunakan teknologi.
“Tidak semua warga terbiasa menggunakan aplikasi. Pelayanan langsung tetap harus tersedia, sementara teknologi bisa membantu warga yang ingin mengakses layanan dan informasi melalui ponsel,” ujarnya.
Berbekal Pengalaman di NU Online dan Pendidikan Pesantren
Agung memiliki latar belakang pendidikan teknologi informasi dengan gelar Sarjana Komputer dari Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Selain pendidikan formal, ia juga memiliki pengalaman di bidang media, desain, fotografi, dan produksi konten digital.
Pengalamannya di dunia media bermula ketika aktif dalam kegiatan media sekolah LPS Kristal MATU Brabo pada bidang artistik dan desain. Saat menempuh pendidikan tinggi, ia juga bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Wartadinus pada bidang fotografi.
Sejak 2020, Agung berkarier di bidang konten kreatif NU Online. Dalam pekerjaannya, ia terlibat dalam produksi berbagai konten keislaman, termasuk video tutorial ibadah, serta pengelolaan media sosial.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal yang ingin dimanfaatkannya untuk mengembangkan sistem komunikasi, penyebaran informasi, dan pelayanan publik di tingkat desa.
Selain memiliki latar belakang pendidikan komputer, Agung juga pernah menempuh pendidikan pesantren di sejumlah lembaga, yakni PP Huffadz Roudlotul Qur'an Kuwaron, PP Roudlotul Jannah Kudus, PP Sirojuth Tholibin Brabo, dan PP Addainuriyah 2 Semarang.
Perpaduan pengalaman di bidang teknologi, media, dan pendidikan pesantren tersebut menjadi bagian dari landasan gagasannya dalam membangun desa yang tidak hanya berkembang dari sisi pelayanan dan ekonomi, tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.
Agung menegaskan bahwa gagasan yang dibawanya masih memerlukan masukan dan keterlibatan masyarakat agar dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan Desa Jumo.
“Pembangunan desa perlu dikerjakan bersama. Saya ingin mendengar masukan warga agar gagasan yang disiapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Agung.
Ia juga berharap seluruh tahapan pemilihan kepala desa dapat berlangsung dengan baik, demokratis, dan tetap mengedepankan kerukunan antarwarga meskipun terdapat perbedaan pilihan.
“Saya ingin membangun Jumo bersama warga, dengan mendengar dan bermusyawarah. Apa pun perbedaan pilihan kita, kerukunan harus tetap dijaga,” pungkasnya.


